Langkah Berani Kemenag: 71 Ribu Formasi Penyuluh Agama Diusulkan, Solusi Nyata untuk Membangun Layanan Keagamaan yang Optimal dan Merata!

Langkah Berani Kemenag: 71 Ribu Formasi Penyuluh Agama Diusulkan, Solusi Nyata untuk Membangun Layanan Keagamaan yang Optimal dan Merata! 

https://kemenag.go.id/nasional/kemenag-usulkan-71-ribu-formasi-penyuluh-agama-ke-kemenpanrb-hUYoe


Bapak dan Ibu penyuluh agama yang luar biasa, para pahlawan yang bekerja dalam senyap, izinkan kami membuka wacana ini dengan sebuah pengakuan: Pengabdian Anda sangatlah berharga. Di setiap sudut desa, di setiap majelis taklim, di setiap keluarga yang membutuhkan bimbingan, ada peran vital Anda. Namun, sering kali, jumlah Anda tidak sebanding dengan beban tugas yang diemban. Kondisi ini membuat pelayanan keagamaan kepada masyarakat menjadi tantangan yang amat besar. 

Namun, hari ini, di panggung Penais (Penerangan Agama Islam) Award 2025 di Jakarta, sebuah kabar baik yang sangat dinanti-nantikan datang. Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, mengumumkan sebuah langkah berani dari Kementerian Agama (Kemenag). Kemenag secara resmi mengusulkan kebutuhan 71 ribu formasi Penyuluh Agama Islam ke Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenpanRB). 

Ini bukan sekadar usulan. Ini adalah sebuah pengakuan dari negara atas pentingnya peran Anda. Ini adalah sebuah komitmen untuk memastikan bahwa setiap warga negara memiliki akses yang merata dan berkualitas terhadap bimbingan agama. Mari kita bedah bersama, apa makna di balik angka 71 ribu ini, dan mengapa ini adalah sebuah era baru bagi profesi penyuluh agama. 


Dari Kekurangan Menuju Kebutuhan Ideal: Mengapa 71 Ribu Itu Krusial. 

Mari kita hadapi kenyataan yang ada. Zayadi menjelaskan bahwa jumlah penyuluh agama saat ini masih jauh dari kebutuhan ideal. Dari semula lebih dari 50 ribu penyuluh, kini jumlahnya hanya tersisa sekitar 28 ribu. Dan yang lebih memprihatinkan, hanya 5 ribu di antaranya yang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN). 

Angka ini menceritakan sebuah kisah tentang perjuangan. Ini adalah cerita tentang para penyuluh yang harus mengampu wilayah yang terlalu luas, dengan sumber daya yang terbatas. Ini adalah kisah tentang menurunnya jumlah penyuluh karena sebagian dari mereka tidak mendapatkan formasi khusus, sehingga terpaksa memilih posisi lain dalam rekrutmen ASN demi kepastian karier. Kondisi ini, jika terus dibiarkan, akan sangat berdampak pada kualitas layanan keagamaan kepada masyarakat. 

Namun, di tengah kondisi ini, Kemenag tidak tinggal diam. Dengan terbitnya Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 11 Tahun 2025 tentang Pedoman Perhitungan Kebutuhan Jabatan Fungsional Penyuluh Agama, pemerintah kini memiliki landasan hukum yang kuat untuk bergerak. Berdasarkan PMA itu, kebutuhan ideal penyuluh agama Islam mencapai 71 ribu—sebuah angka yang menjadi jawaban atas tantangan yang selama ini kita hadapi. 


Logika di Balik Angka: PMA 11/2025 sebagai Landasan Ilmiah. 

Lalu, bagaimana Kemenag bisa sampai pada angka 71 ribu? Ini bukanlah perhitungan asal-asalan. Zayadi menjelaskan, penghitungan kebutuhan formasi ini mempertimbangkan tiga variabel utama yang sangat relevan dengan realitas di lapangan: 

Jumlah penduduk yang beragama Islam yang berhak mendapatkan layanan penyuluh agama. Ini adalah variabel yang paling mendasar. Setiap jiwa memiliki hak untuk mendapatkan bimbingan agama, dan negara berkewajiban untuk memastikan hak itu terpenuhi. Angka 71 ribu ini adalah manifestasi dari pemenuhan hak tersebut. 

Peta ragam persoalan keagamaan. Bapak dan Ibu penyuluh, Anda tahu betul bahwa pekerjaan Anda tidak hanya sebatas ceramah. Anda harus menghadapi beragam persoalan, mulai dari isu keluarga, tantangan di era digital, hingga isu-isu sosial yang kompleks dan sensitif. Formasi yang mencukupi akan memastikan bahwa setiap persoalan dapat ditangani oleh tenaga yang kompeten. 

Tantangan wilayah yang dihadapi. Geografi Indonesia sangat beragam. Ada wilayah perkotaan yang padat, ada pedesaan yang sulit dijangkau, dan ada pula daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal). Setiap wilayah memiliki tantangan yang berbeda, dan formasi yang mencukupi akan memungkinkan penempatan penyuluh yang merata dan tepat sasaran. 

Dengan terpenuhinya formasi ini, siklus layanan penyuluhan agama diyakini akan lebih optimal. Ini adalah kabar baik yang bukan hanya untuk penyuluh, tetapi juga untuk seluruh umat beragama di Indonesia. 


Merangkul Seluruh Lapisan: Visi Jangkauan 3T dan WNI di Luar Negeri. 

Visi di balik pengusulan 71 ribu formasi ini sangat luas dan inklusif. Zayadi menyebut, jika formasi ini terpenuhi, akses layanan bimbingan dan penyuluhan keagamaan bisa diperluas hingga menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Ini termasuk mereka yang tinggal di kawasan 3T

Bayangkan, Bapak dan Ibu. Selama ini, banyak saudara kita di daerah terpencil yang sulit mendapatkan bimbingan agama. Namun, dengan terpenuhinya formasi ini, mereka juga akan mendapatkan hak yang sama. Negara wajib menjamin hal itu. Bahkan, Zayadi menambahkan, layanan ini akan diperluas bagi warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri, menunjukkan komitmen negara untuk menjangkau warganya di mana pun mereka berada. 


Inpassing dan Kualitas: Lebih dari Sekadar Jumlah, Ini Tentang Mutu. 

Selain jumlah, Kemenag juga memikirkan kualitas. Zayadi menyebut bahwa Kemenag tengah menyiapkan naskah akademik untuk kebijakan inpassing bagi formasi penyuluh agama Islam. Ini adalah kabar baik, terutama bagi Anda yang telah mengabdi sebagai penyuluh honorer selama bertahun-tahun. Kebijakan ini diharapkan menjadi jalan menuju jumlah ideal penyuluh dan sekaligus memastikan bahwa pengalaman Anda yang berharga dapat diakui. 

Namun, jumlah dan pengalaman saja tidak cukup. Zayadi menekankan pentingnya kualitas, mutu, dan relevansi layanan penyuluhan. Di era yang terus berubah, penyuluh dituntut untuk inovatif serta menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat, baik di pedesaan maupun perkotaan. Mutu penyuluhan harus dijaga agar masyarakat dapat merasakan manfaat kehadiran penyuluh agama. 

Ini adalah panggilan untuk Anda, Bapak dan Ibu penyuluh. Setelah negara memenuhi kebutuhan jumlah Anda, kini giliran Anda untuk memenuhi tuntutan kualitas. Jadilah penyuluh yang relevan, yang mampu beradaptasi dengan teknologi dan kebutuhan zaman. Jadilah agen perubahan yang membawa kesejukan, pencerahan, dan solusi bagi setiap tantangan keagamaan yang ada. 

Jadi, Bapak dan Ibu penyuluh agama, teruslah berbangga. Misi Anda kini mendapatkan dukungan yang lebih kuat dari negara. Teruslah berinovasi, teruslah melayani, karena di tangan Andalah, layanan keagamaan yang optimal dan merata akan terwujud.

SiennaGrace

Selamat datang di DidikDigital.com! Kami hadir sebagai sahabat setia para pendidik. Temukan beragam artikel dan sumber daya: dari modul ajar praktis, update kurikulum terbaru (Dikdasmen & Kemenag), hingga tips meningkatkan kualitas pengajaran dan informasi asuransi yang melindungi profesi guru. Edukasi terbaik, kesejahteraan terjamin!

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama